Trend Sekolah Program MBA, Model Terbaru

Sponsored Links

Trend Kuliah MBA, Model Terbaru

Kuliah M.B.A. (Master of Business Administration) memang Sedang jadi mode. Tetapi, jelas bukan sekolah musiman. Sekolah ini timbul karena kebutuhan. Setidaknya sudah ada tiga yang kini sibuk “mencetak” M.B.A.: IPMI, IPPM, dan IMPM. Satu bahkan sudah berhasil mewisuda 22 M.B.A. pada Agustus yang lalu.

Mengapa muncul kebutuhan akan program studi kuliah M.B.A? Bukankah di mana-mana sudah ada fakultas ekonomi? Dr. Siswanto Sudomo dari IPMI menyebutkan adanya perbedaan antara pendidikan bisnis dan pendidikan yang diperoleh mahasiswa fakultas ekonomi. Pendidikan bisnis, menurut dia, tidak bisa dianggap sebagai bagian dari jurusan ekonomi perusahaan atau jurusan manajemen fakultas ekonomi. “Input pendidikan ekonomi itu hanya satu, yaitu aspek business environ nient,” kata Siswanto. itu berbeda dengan pendidikan bisnis yang lebih multidisipliner. Tidak hanya business environment yang dikembangkan, tetapi juga aspek teknis, hukum, politik, sosial, dan lain-lain yang merupakan kenyataan sehari-hari dalam kehidupan bisnis.

Singkatnya, program studi bisnis memberikan keterampilan teknis bagi para mahasiswanya untuk dapat mengelola bisnis secara kompeten. Seorang M.B.A. dianggap lebih siap pakai untuk diterjunkan langsung dalam situasi sebenarnya.

Program studi M.B.A. di Indonesia kebanyakan diarahkan kepada para eksekutif yang sudah mengalami asam-garamnya kehidupan bisnis. Fenomena yang menarik ini terlihat jelas di kelas. Eksekutif ubanan berlomba dengan eksekutif muda untuk mendapat nilai terbaik. Eksekutif ubanan mungkin memang sudah gapa dengan liku-liku bisnis, tetapi kekurangan kemampuan untuk mensistematisasikan pikirannya dalam menggabungkan sumber daya dan meningkatkan produktivitas.

Program MBA (Illustrasi)
Program MBA (Illustrasi)

Di negara-negara maju, yang masyarakatnya memang meyakini lifelong education, banyak eksekutif setengah usia yang minta cuti untuk memperoleh pendidikan M.B.A. IBM, misalnya, telah mensponsori 3.600 pegawainya untuk menyelesaikan program M.B.A. Perusahaan memang perlu mempunyai tanggung jawab untuk kelanjutan pendidikan para pegawainya. Di kalangan ketentaraan kita mengenal berbagai jenjang pendidikan yang memberikan fasilitas bagi anggotanya untuk meningkatkan kemampuan. Robert deSio dari IBM mengatakan bahwa upaya perusahaan untuk mensponsori pendidikan lanjutan bagi karyawannya adalah suatu strategic must. “Terutama bagi karyawan setengah umur yang mulai mengalami half-life phenomena,” katanya. “Mereka sudah mulai terancam akan menjadi obsolete dalam waktu dekat. Lalu produktivitasnya menurun dan mereka pun terkena berbagai gangguan kejiwaan.” Semangat mereka akan terkatrol lagi setelah menerima pendidikan lanjutan yang membuatnya merasa yakin dapat bersaing lagi dengan eksekutif muda.

“Continuing education is a tool for survival,” kata Robert deSio. Hal itu diyakini oleh perusahaan-perusahaan Amerika yang tahun lalu menghabiskan 60 milyar dolar hanya untuk pendidikan dan latihan karyawannva.

Keyakinan seperti itu pun mulai bergema di Indonesia. Pembangun Jaya mengirimkan stafnya untuk memperoleh M.B.A. di IMPM. Bulog dan Pertamina memakai IPMI untuk mendidik stafnya menjadi M.B.A. Tetap ada juga yang mendidik M.B.A.-nya sendiri. “ini memang barang baru’ kata Drs. Abdulgani, Direktur Utama Bank Duta. Bekerja sama dengam Golden Gate University di California, Bank Duta menyelenggarakan program M.B.A. khusus perbankan dan keuangan di Indonesia. Di gedung barunya yang menggapai awan, fasilitas untuk pendidikan tinggi seperti itu memang dapat dicukupi dengan baik.

Golden Gate University adalah pusat pendidikan terbesar nomor tiga di California. Desain kurikulumnya memang agak berbeda dengan program M.B.A. lainnya, terutama mengingat para mahasiswanya yang kebanyakan adalah karyawan Bank Duta tidak dapat dilepas selama jangka waktu panjang untuk mengikuti program. Programnya terdiri atas 12 seminar yang masing-masing berlangsung selama enam hari intensif. Tiap enam minggu para mahasiswa dipanggil untuk masuk “asrama”. Dua seminar terakhir dan ujian komprehensifnya diselenggarakan di San Francisco.

“Untuk memberi kesempatan bagi masyarakat, program ini juga terbuka untuk umum,” kata Abdulgani. Bayar, tentu! Mana ada pendidika gratis. Sekitar 12 juta rupiah, ditambah tiket dan biaya tinggal selama tiga minggu di San Francisco.

Tetapi, tidak sedikit pula orang yang tidak percaya arti pentingnya pendidikan lanjutan. “Sudah kita biayai pendidikannya agar tambah pintar, eh. . . dibajak perusahaan lain,” kata seorang eksekutif. Ya, untuk itu perlu kiat lain.

Sumber Tulisan: Buku Kiat 100 Bisnis Karya Bondan Winarno