Prospek Bisnis Properti 2016

Sponsored Links

Bisnis Properti 2016

Tahun 2016 sudah tiba! Pastinya Anda bertanya-tanya, bagaimana dengan prospek bisnis properti di Tahun 2016? Apakah lebih baik atau lebih buruk di bandingkan dengan prospek properti Tahun 2015 kemarin. Ya..ya..namanya sebuah prediksi, tentunya akan banyak sekali analisa-analisa untuk meramalnya. Jadi untuk memperkirakan kemungkinan-kemungkinan Tahun 2016, tentunya akan diperlukan instrument-instrumen peramalan yang di gunakan untuk melihat tahun depan. Jika dalam ilmu ekonomi, ilmu statistik yang paling sering di gunakan adalah regresi.

Dengan ilmu regresi ini para peneliti-peneliti ilmiah dapat memprediksi dan memperkirakan kira-kira di angka berapa pertumbuhan ekonomi dengan berdasarkan data tahun kemarin. Jadi ini adalah ilmu sederhana dan cukup simpel untuk memprediksi pertumbuhan apapun. Regresi banyak sekali di gunakan untuk ilmu ekonomi dan statistik khususnya. Semisal untuk ilmu pemasaran, bisa juga di gunakan untuk memprediksi penjualan tahun depan dengan mengambil sampel data tahun kemarin. Bisa juga di gunakan untuk ilmu bugeting, mislanya tahun kemarin belanja bahan baku habis berapa, tentunya dengan menggunakan ilmu regresi ini bisa memprediksi, kira-kira berapa belanja yang akan di gunakan di tahun depan.

Prospek Bisnis Properti 2016
Prospek Bisnis Properti 2016

Prospek Bisnis Properti Tahun 2016

Ketika Anda bertanya bagaimana dengan prospek bisnis properti Tahun 2016, yang jelas kita wajib menganalisa terlebih dahulu, kejadian-kejadian apa yang menimpa dengan bisnis properti Tahun 2015. Jadi kita tidak akan bisa memprediksi kondisi ekonomi Tahun ini tanpa mengacu dan melihat ekonomi tahun kemarin. So, sebetulnya yang terjadi di tahun kemarin 2015, cukup ada peningkatan ekonomi dalam hal properti. Meskipun ada peraturan pengetatan BI tentang kredit perumahan, khususnya untuk uang muka kredit. Namun masyarakat dan semua stake holder yang berkaitan dengan kebijakan ini sudah bisa menyesuaikan diri untuk melaksanakannya. Kebijakan ini diambil memang untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia, agar tidak terjadi kemacetan ekonomi besar-besaran seperti di negeri paman Syam Amerika. Memang ada sisi positifnya sih, pemerintah selalu menjaga kredit perumahan agar tidak over dosis, sehingga ini menjadikan pertumbuhan ekonomi kita, khususnya untuk perumahan di taraf aman.

Kembali lagi pada prediksi ekonomi di Tahun 2016, hampir bisa dipastikan (dengan tanpa ada gejala-gejala tertentu yang tak wajar), pastinya perekonomian Indonesia, khususnya di bidang properti akan semakin tumbuh, meskipun angkanya tidak setinggi yang diinginkan. Ya, prospek bisnis properti di Indonesia bisa di katakan stabil dan tumbuh. Jadi meskipun lambat, namun tetap pasti terus berkembang dan berkembang dalam sektor industri properti ini, semisal pembangunan perumahan, ruko, dan infrastruktur lainnya.

Jadi bisa di tarik kesimpulan sederhana, bahwa pertumbuhan bisnis properti Indonesia dipastikan akan bakal naik di bandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika di Tahun 2014 ada acara besar-besaran karena hajatan Pemilu, namun di 2105 sudah mulai stabil, tentunya di Tahun 2106 ini akan lebih stabil. Hal ini bisa terjadi karena memang pemerintahann Jokowi JK sudah mulai menemukan formula terbaik untuk mengatur dan menata pemerintahan. So, mari kita sambut ekonomi yang terbaik dan semakin tumbuh di Tahun 2016 ini, khususnya dalam bidang dunia bisnis properti.

Bisnis Properti Tahun 2016, Jauh Dari Kata Suram

Tahun 2016 adalah Tahun dimana bisnis properti akan mengalami lonjakan. Tahun ini adalah Tahun yang cukup baik dalam prospek bisnis properti. Bukan hanya dari sisi sektor riil, namun bisnis properti di sektor non riil juga akan menjadi prospek yang cukup bagus.

Prospek Bisnis Properti Tahun 2016 akan diperkirakan positif. Inilah salah satu tulisan yang di tulis oleh media kompas dalam tajuk propertinya. Salah satu segment yang akan cukup unggul untuk pertumbuhan bisnis properti adalah untuk konsumen menengah keatas. Segment ini diperkiraakn akan mengalami pertumbuhan yang cukup unggul di bandingkan dengan segment bisnis properti menengah kebawah.

Tidak hanya itu saja, Pertumbuhan ekonomi khususnya dalam bidang properti ini akan terus tumbuh mengingat akan ada tambahan populasi baru dalam kebutuhan properti. Segment ini akan tumbuh terus dengan angak yang cukup bagus, ada kisaran 1,49 Persen populasi baru setiap tahun yang memerlukan properti. Selain itu ada backlog (keadaan ketimpangan pemenuhan kebutuhan dengan pemasok) untuk hunian di angka yang yang cukup mencengangkan, ada 15 Juta unit per Tahun 2013.

Analisa tersebut merupakan summary atau rangkuman dari para pelaku industri dalam bisnis properti. Salah satu ucapan yang cukup diakui dan bisa dijadikan patokan untuk melihat bagaimana prospek bisnis properti tahun 2016 adalah kata Ekonom dari salah satu Bank terkemuka Indonesia, Bank Permata yang sekaligus sebagai Kepala Pusat Studi Ekonomi serta Kebijakan Publik salah satu perguruan terkenal Jogjakarta, UGM, A Tony Prasentiantono, memberikan analisa bahwa pertumbuhan ekonomi di Tahun 2016 akan semakin moncer serta ada peluang yang cukup besar untuk tumbuh.

“Jadi tidak ada alasan untuk khawatir dengan prospek dan masa depan bisnis properti tahun 2016, Karena Pememerintah mempunyai senjata andalan berupa cadangan dana kisaran 291 Trilliun untuk mengurang penganguran dan subsidi BBM yang akan dipindahkan (dialihkan) untuk kebutuhan pembangunan infrastruktur,” ucap Toni.

“Sehingga bisa di tarik kesimpulan sederhana, pembangunan infrastruktur tersebut mau tak mau memang berkaitan dengan bisnis properti. Sehingga sangat memungkinkan untuk terus tumbuh aktif serta dinamis dalam dunia bisnis perumahan dan properti, ” tambah Toni.

Selain itu, masih kata Toni, pertumbuhan bisnis properti akan semakin melesat jauh kedepan jika BI selaku pemilik regulasi memberikan sebuah kelonggaran dalam upaya kredit perumahan dan properti. Akan lebih ciamik lagi jika kredit KPR memberikan penurunan dari LTV (loan to values) yang dari sebelumnya 30 persen hingga 50 persen turun keangka yang lebih bersahabat, 10 persen atau 20 persen untuk segement ekonomi menengah kebawah.