Petuah Wanita Madura

Sponsored Links

PETUAH WANITA MADURA

Tulisan kali ini, adalah tulisan yang berkaitan dengan tips dan trik bisnis. Cerita ini di mulai dari sebuah cerita beberapa tahun yang lalu majalah Time memuat sebuah karangan pendek tentang Corporate Angel Network (CAN). Begitu pendek, sehingga mungkin tidak banyak dibaca orang. Nama Angel di Amerika Serikat memang sudah identik dengan jasa baik. Ada sekelompok bidadari nekat. ahli bela diri, yang membantu memerangi kriminalitas dalam kereta api bawah tanah di New York. Di televisi pun ada film seri tentang tiga bidadari cantik yang dipekerjakan oleh si Charlie yang tak pernah tampak batang hidungnya.

Kelompok bidadari CAN ini dipimpin seorang penulis freelance dan penerbang Priscilla Blum, 59, yang telah mengalami pemotongan payudara karena kanker (mastektomi). Setua itu, dan tanpa payudara, ia tentu sulit menandingi charm-nya Farrah Fawcett dari film Charlie’s Angels. Tetapi ternyata ia mampu membuat presiden direktur AMF — sebuah perusahaan besar pembuat alat-alat olah raga dan industri teknologi — membawa serta seorang penderita kanker dalam pesawat terbang pribadinya dari Houston ke New York.

Tips Bisnis (Illustrasi)
Tips Bisnis (Illustrasi)

Corporate Angel Network ini adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang mengusahakan penerbangan gratis bagi para penderita kanker, dengan pesawat-pesawat terbang milik perusahaan, dari dan ke rumah sakit yang akan merawatnya.

Karen Janszen, 34, mengalami pembedahan tumor jinak dalam otaknya dua tahun yang lalu. Sejak itu ia harus menjalani serangkaian pengobataa kemoterapi. Dan tempat tinggalnya di New York ke rumah sakit Houston ia tentu harus mengeluarkan banyak ongkos. Apalagi kalau menghendaki kursi khusus dengan perhatian khusus pula dari para pramugari (penderita penyakit ini sering sulit berada di tempat yang hiruk pikuk). Ongkos-ongkos perjalanan itu tidak tercakup dalam asuransi kesehatan, sehingga harus dibayar sendiri oleh Karen.

Bulan lalu Karen pulang menumpang pesawat khusus Hawker Siddeley dengan delapan kursi. Di dekatnya duduk W. Thomas York, pemilik pesawat itu, presiden direktur AMF yang baru pulang dari pertemuan bisnis di Houston. Selain tidak bayar, Karen pun mengalami penerbangan yang istimewa. “Semua orang dalam pesawat begitu menyenangkan. Mereka menghidangkan makan dan minum serta menceritakan latar belakang perusahaan mereka.” Semua itu berkat CAN.

Ketika baru didirikan, pada 1981, CAN hanya berhasil menerbangkan 24 pasien. Sekarang CAN sudah bisa menerbangkan jumlah itu dalam sebulan. Selama ini telah 299 pasien diterbangkan dengan jarak tempuh hampir satu juta kilometer. Tidak heran kalau bulan lalu CAN memperoleh President’s Volunteer Action Award, “kalpataru’ ‘-nya para relawan di Amerika.

Sebagai seorang bekas penderita kanker, Priscilla tahu apa yang diperlukan para penderita kanker. Sebagai penerbang, Priscilla pun tahu bahwa pesawat-pesawat terbang pribadi milik perusahaan-perusahaan Amerika sering mengudara dengan beberapa kursi kosong. Dengan bantuan komputer CAN dapat mengetahui kebutuhan mobilitas para penderita kanker dan kursi kosong yang tersedia, jadwal dan tujuan penerbangan pesawat-pesawat pribadi yang pemiliknya menjadi anggota CAN.

Semula usaha Priscilla ini tidak banyak mendapat dukungan. Tetapi kemudian terjadi titik balik ketika pada 1983 David Mahoney, presiden direktur Norton Simon, terpaksa menunda kepergiannya karena secara mendadak pesawatnya dipakai untuk menerbangkan pasien. Ia lalu menulis surat kepada 1.500 perusahaan besar Amerika Serikat untuk membantu CAN. Seratus perusahaan yang memiliki pesawat terbang segera mendaftar. Sekarang sudah 270 perusahaan ikut serta membantu CAN, termasuk American Axpress, AT&T, General Foods, Merrill Lynch, Reader’s Digest, dan Time Inc. Sekalipun demikian, baru 30% kebutuhan para penderita dapat dipenuhi. Padahal, di udara Amerika beterbangan 15.700 pesawat pribadi milik perusahaan.

Ehm. . . cerita yang menarik. Tetapi apa bisa kita tiru di Indonesia? Ketika berjalan-jalan di Pasar Genteng, Surabaya, saya menolak membeli mangga karena akan sulit membawanya. Wanita Madura yang menjual menyindir saya, “Kalau memang kepingin, Pak, tidak ada yang berat.” Ia benar. Kalau kita memang ingin melakukan bakti sosial dan berbuat kebajikan, kita bisa rnelakukannya.