(Harpitnas) Hari Libur Kejepit Nasional

Sponsored Links

Harpitnas

“Kerja keras, rajin, dan lembur untuk menyelesaikan pekerjaan bisa tetap membuat karyawan senang hati apabila motivasinya kuat,” tulis seorang pembaca setia rubrik Kiat. “Tetapi dengan jujur saya mengatakan bahwa hari-hari libur yang bukan Minggu kok juga selalu saya harapkan.” Ya, siapa tidak?

Indonesia mempunyai hari libur resmi yang cukup banyak. Bersama dengan Hong Kong dan Malaysia, Indonesia mempunyai 13 hari libur resmi dalam setahun. Muangthai mempunyai 14 hari libur. Singapun Filipina, dan Amerika Serikat mempunyai 10 hari libur. Jepang mempunyai 12 hari libur. Juga Jerman Barat. Sedangkan Australia dan Inggris hanya mempunyai delapan hari libur resmi setahun.

Apakah banyaknya hari libur resmi berbanding terbalik dengan produktivitas? Kita boleh melihat Jepang dan Jerman Barat yang mempunyai 12 hari libur resmi, tetapi juga dikenal sebagai negara-negara berproduktivitas tinggi. Jepang bahkan mempunyai hari libur yang unik: hari untik menghormati orang tua (15 September yang lalu), Hari Anak-Anak, Hari Orang Dewasa, Hari Olah Raga, Hari Kebudayaan, di samping hari-hari besar keagamaan dan kenegaraan.

Ciri hari libur Jepang itu tentu saja membawa ciri kegiatan yang khas pula. Pada hari menghormati orang tua, semua orang libur bekerja. Tetapi trem dan bis kota tetap penuh. Orang-orang yang bepergian tidak membawa tas kerja, tetapi bingkisan yang dijinjing dalam kain berwarna-warni Mereka menjenguk orangtua masing-masing untuk menyampaikan salam takzim sambil mengenang jasa mereka yang telah membesarkan anak-anaknya. Ada semacam pemutihan dosa dan pengentengan beban spiritual di situ, sehingga jelas hari libur itu berbeda dengan hari libur Minggu yang dipakai untuk rekreasi rutin.

Harpitnas
Harpitnas

Demikian juga pada Hari Anak-Anak di Jepang, semua orangtua di ingatkan akan tanggung jawab mereka bagi generasi yang akan datang. Bahkan pada suatu Minggu di bulan November, sekalipun bukan hari libur resmi, ada Hari Sichi-Go-San, ketika orangtua yang mempunyai anak berusia tujuh, lima, atau tiga tahun harus membawa anaknya ke kuil (dalam pakaian tradisional) untuk memperoleh pemberkatan.

Pembedaan hari libur Minggu dari hari libur resmi sudah jadi sikap orang Jepang. Hanya pada libur akhir pekan saja mereka memuaskan dirinya berekreasi untuk menghilangkan suntuk dan jenuh setelah lima hari penuh bekerja. Tidak heran kalau banyak industri besar di Jepang kini menggeser hari libur mingguannya bukan pada Sabtu-Minggu, tetapi senin-Selasa, agar karyawannya dapat menikmati fasilitas rekreasi pada hari-hari sepi. Italia juga punya peraturan hari libur khusus bagi industri jasa, seperti restoran, pompa bensin, bank, dan toko, agar tidak semuanya tutup pada Minggu. Kalau suatu Rabu, Anda masuk restoran dan menjumpai tulisan chiusso per turno pada pintu yang terkunci, artinya dia dapat jatah libur Rabu agar Minggu dapat melayani masyarakat.

Bagaimana dengan kita? Harus kita akui bahwa masih banyak di antara kita yang menggalaukan hari libur Minggu dengan hari libur resmi. Banyak yang ogah-ogahan berangkat mengikuti upacara 17 Agustus di kantor, karena merasa hak liburnya kena korting. Yang lebih repot adalah bahwa setengah hari 16 Agustus sudah banyak karyawan yang meninggalkan kursi. Kalau ada lomba gerak jalan, maka tanggal 18 Agustus dijamin akan banyak karyawan yang mangkir. Apalagi kalau hari itu adalah hari yang kejepit dengan libur lainnya.

Dari 13 hari libur resmi kita tahun ini, empat hari jatuh pada Minggu dan satu hari pada Sabtu. Rugi, ya? Di negara lain ada peraturan, kalau hari libur resmi jatuh pada Sabtu atau Minggu, maka Senin berikutnya resmi diliburkan. Karena kita ingin produktif, maka peraturan seperti itu tidak perlu ada. Toh akan banyak yang mangkir.

Hari Idul Adha lalu, contohnya, yang jatuh pada Kamis, membuat banyak karyawan sekaligus “meliburkan diri” pada Jumat dan atau Sabtunya . Tiba-tiba saja ada ibu yang sakit berat, kemanakan yang kawin, atau saudara jauh yang meninggal. Istilah ini biasa di namakan harpitnas, alias hari libur kecepit libur nasional. haha, dengan kondisi ini, banyak atasan yang gusar.

Periode antara 25 Desember dan 1 Januari juga merupakan musim pembolosan yang baik. Karena itu, banyak perusahaan justru membagi bonus atau gratifikasi pada saat-saat itu. Sengaja tanggalnya tidak disebut dengan tepat, agar karyawan tetap masuk untuk menerima bonusnya.

Sikap kita terhadap kerja memang sedang belum benar. Atau motivasinya yang kurang pas. Karena Jumat pagi sudah berolah raga, maka banyak yang membiarkan kursinya kosong sepanjang hari. Pegal, ‘kan? Olah raga itu berat, Iho, terutama bagi mereka yang hanya seminggu sekali menggoyang tubuh. Untung juga Muhammad Ali sudah berhenti bertinju. Kalau tidak, akan banyak lagi jam kerja yang terbuang secara nasional untuk (hanya!) menonton siaran langsung dari Las Vegas.