Generasi Milennial Tahun 2016

Sponsored Links

Perilaku Konsumen Milennial Generation 2016

Apaan sih generasi Milennial? Apa pula maunya generasi Milennial? Trus untuk apa mempelajari dan mengetahui kegunaan generasi ini untuk bisnis, untuk keperluan marketing, untuk keperluan konsumen? Ya..ya..tulisan ini adalah tulisan yangterinspirasi oleh tulisan yuswohadi.com, dalam blog pribadinya beliau menulis tentang generasi Milennial 2016. Sebuah tulisan yang menarik dan menatang tentunya untuk di bahas dan dikupas dalam blog yang keren ini, bisnis properti. Lalu bagaimana maunya, perilaku konsumennya ketika melihat pola dan perilaku generasi milennial 2016 ini.

Jauh sebelum bercerita soal generasi Milennial, tentunya Anda pasti ingin tahu dan penasaran, apa sih definisi generasi milennial ini? Ya, generasi Milennial adalah geenrasi yang lahir pada rentang waktu 1980an, hingga Tahun 2000an. Generasi ini ada juga yang menamakan Net Generations, Generation WE, Gen-Y, Boomerang Generations, atau ada Juga yang menamakan Peter Pan Generations.Banyak juga ya istilahnya untuk meyebut dan menamakan istilah generasi milennium ini. Salah satu hal yang bisa di tarik kesimpulan dari generasi milennial ini adalah mereka memiliki perilaku suka dengan teknologi. Generasi ini memang lahir karena pergantian tahun Milenium, generasi yang secara bersama-sama lahir di era gadget dan teknologi yang keren, teknologi informasi.

Satu nilai plus generasi Milennial adalah memiliki nilai-nilai serta perilaku yang positif dan keren, tentunya ini akan kontradiksi dengan generasi periode sebelumnya yang di sebut dengan Gen X, (generasi x lahir antara tahun 1964 hingga 1980), atau X generations. Generasi X mempunyai ciri-ciri yang secara umum boleh di bilang jadul, misalnya tech-savvy, multitasker, adventurer, social, cocreator atau collaborator, connected, transparent, work-life balance, serta sifat-sifat positif lainnya. Itu hanya pengamatan secara umum, sepintas lalu saja. Jika kita berkaca di Indonesia dengan melihat latar belakang sejarah, latar belakang pendidikan, politik di Indonesia saat itu, ekonomi serta sosial budaya kemasyarakatan tentunya sangat berbeda jika di bandingkan dengan generasi Milennial Indonesia.

Hijaber Narsis (Illustrasi)
Hijaber Narsis (Illustrasi)

Masil dalam tulisan blog yuswohadi.com, dalam blog tersebut menjelaskan bahwa beliau mempunyai lembaga penelitian dan pengkajian independen, Inventure dan Middle Class Institute (MCI), mereka menyoroti, akan ada 13 trend yang akan di miliki oleh generasi Milennia ini. Berikut ini penjelasan dari 13 Trend Generasi Milennia ini:

  1. Milennial Wanna Be
  2. Sharing Is Cool
  3. “How We Consumer” Is a New Lifestyle. Tools Matter
  4. The Rise Of Instagrampreneur
  5. Holiday Effect
  6. Multi Tribes Netizen
  7. Brand Story Matters
  8. The Birth Of Visual Generations (Gen V)
  9. Instant Online Buying

10. “Comment Seeker” Generations

  1. “Social Media Pressure”
  2. Circular Economy
  3. Two Faces of Cliks Activism

Adapun penjelasan dari ke 13 istilah asing tersebut, berikut kami jelaskan satu-satu.

  1. Milennial Wanna Be

Jika melihat Milenial Generations tentunya akan ada perilaku yang namanya perilaku Milennial. Ya, ini bukan saja sebagai penanda kelahiran, namun lebih bersifat pada tingkah polah dan perilaku. Jika Anda melihat orang-orang yang lahir jauh dari sebelum generasi ini, tentunya bisa dikatakan mempunyai perilaku Melennial. hehe Lalu apa saja sih yang suka dikerjkaann dan dilakukan oleh generasi ini? Salah satu hal yang paling menonjol adalah perilaku generasi ini suka banget dengan yang namanya narsis, suka mengekspresikan diri, salah satunya suka banget narsis di media sosial. Jadi meskipun sudah tua, namun mempunyai perilaku dan ciri-ciri tersebut diatas, bisa dikatakan mempunyai perilaku milennial, mungkin akan lebih parah dari yang generasi aslinya. Sebetulnya Milennial lebih mengarah kepada identitas dan ekspresi diri, namun jika melebihi ini, umur juga bukan umur segini, tentunya bisa juga di katakan generasi Milennial abal-abal..heheh Umurnya sudah tua, namun perilakunya mengalahkan anak-anak muda di generasinya.

Ekspresi Narsis Generasi Milennia (Illustrasi)
Ekspresi Narsis Generasi Milennia (Illustrasi)
  1. Sharing Is Cool

Ya..ya..jika kita melihat sejarah, melihat pengamatan sepintas soal perilaku konsumen, sharing economy mulai di adopsi dan di pakai oleh konsumen-konsmuen Indonesia, ini sebetulnya lebih di khususkan pada kaum dengan julukan Milennial tadi. Salah satu pemicu trend ini adalah jika Tahun kemarin 2015, ada kisah suksesnya Go-Jek, dengan pelayanan Ojek Online. Tentunya dengan inovasi-inovasi seperti ini, akan membuka mata kita, akan syarat dan pentingnya kebutuhan teknologi untuk mempermudah kehidupan kita.Pastinya akan banyak bermunculan-bermunculan ide-ide serupa yang pada ujung-ujungnya mengedukasi pada masyarakat akan perubahan teknologi. Tentunya sisi baiknya konsumen akan semakin dimajakan dengan kemudahan teknologi. Prediksi yang paling memungkinkan adalah Tahun 2016, tentunya akan banyak teknologi-teknologi baru yang memberikan kemudahan pada layanan konsumen. Akan banyak muncul aplikasi-aplikasi android terbaru yang memberikan sumbangsih pada keefisiensian, semisal layanan travel dengan travelokanya, dengan teknologi sejenis yang menyediakan kemudahan untuk berbelanja online khususnya untuk sektor travel online. Budaya “share, not own” akan cukup masif berkembang di Indoensia. Jika sang penyedia layanan memuasakan tentunya akan di sharing kemana-mana, sebaliknya jika terjadi riview negatif juga akan ngember kemana-mana. Inilah zamannya teknologi yang cukup revolusioner. Layanan music online akan semakin sering dan urgent untuk selalu di gunakan, semisal layanan berbasis cloud akan semakin berkembang, ambil saja contoh Netflix, Sportify, JOOX, SoundCloud dan itunes.

Narsis Milennia (Contoh Foto Narsis)
Narsis Milennia (Contoh Foto Narsis)
  1. “How We Consumer” Is a New Lifestyle. Tools Matter

Salah satu kerennya generasi Milennia adalah, ketika mendengar musik dengan menyetel media Sportify, mereka akan sangat memiliki anggapan (keyakinan) ini lebih joss di bandingkan dengan mendengar radio. Melihat film dengan menggunakan media Netflix tentu akan merasa lebih keren di bandingkan menonton bioskop ala traditional, meskipun itu melihatnya di mall-mall kelas wahid. Jika generasi Milennia lari dengan memanfaatkan fasilitas Nike+ running tentunya akan merasa lebih keren di bandingkan larinya itu sendiri. Larinya sih gak penting-penting banget, namun menggunakan fasilitas yang ada di Running+ itu yang keren, karena memang menggunakan fitur GPS, Timer, Tracker, Calories, Pedometer, plus-plus Music Palyer yang di koneksikan dengan jejaring sosial, sebuah kehidupan yang terlihat syarat teknologi yang keren. Jika dilihat sepintas, larinya, nonton filmnya mendengar musiknya tak begitu penting, namun berbagi dan narsis si dunia mayanya itu yang lebih penting.

  1. The Rise Of Instagrampreneur

Hadirnya trend instagram baru-baru ini cukup mengejutkan dalam dunia bisnis online. Jika dulu bisnis online mungkin trendnya hanya jualan menggunakan facebook atau twitter, namun kini akan muncul trend baru, yaitu munculnya Instragrampreneur. Ya, hanya dengan memiliki Instagram yang memiliki follower yang bejibun akan menjadikan ladang bisnis tersendiri. Ini sudah banyak kisah nyata di buktikan. Ambil saja satu contoh, ada anak SMA Bandung dekat dengan Cibaduyut yang gemar sekali mendesain sepatu dan memamerkan di Instagram. Mereka akan cukup mudah meraih omset hingga ratusan juta hanya berbagi lewat media ini. Sebuah ide dan ledakan teknologi media sosial baru. Media akan sangat di gemari oleh pelaku bisnis baru, netpreneur baru di dalam dunia maya. Ajakan dari bukalapak.com, Tokopedia.com dan OLX akan sangat memicu energi positif untuk menjadi jutawan muda baru hanya dengan media-media jualan online tersebut, sebuah media yang cukup keren, mudah dan simpel untuk berbisnis.

Narsis Kuliner
Narsis Kuliner
  1. Holiday Effect

Ini adalah efek paling keren terbaru di Indonesia. Jika dulu untuk urusan liburan bukan apa-apa, urusan liburan tak begitu penting bagi sebagain masyarakat Indonesia, namun kini sudah sangat menjadi agenda penting. Lihat saja, kemarin Tahun 2015, sempat ada Dirjen mengundurkan diri karena tak sanggup mengatasi macetnya musim liburan Agustusan. Ini adalah perilaku terbaru untuk generasi Milennial. Urusan liburan sekarang menjadi wajib, meskipun bukan musim hari raya, namun ini akan muncul agenda-agenda baru yang seakan-akan ada dan di buat-buat..hehe

  1. Multi Tribes Netizen

Fenomena keren mahluk Milennial. Satu orang bisa saja mengikuti banyak grup yang aneh-aneh, mulai dari grup WA tentang komunitas pengajian, grup BBm komunitas burung, Grup Facebook komunitas odong-odong produk digitalas dan sebagainya. Tentunya manusia di zaman modern ini harus pandai-pandai bersandiwara dengan grup-grup tersebut, meskipun satu orang bisa da di mana-mana. Belum lagi jika gabung dengan grup alumni, grup bisnis, grup urusan pekerjaan kantor dan seterusnya. Ini adalah trend terbaru untuk generasi Milennia. Dalam tulisan yuswohadi.com mereka memang menamakan Multi Tribes Netizen, satu orang bisa bermulti muka, multi kepentingan dan multi grup yang bisa diikuti bersama-sama.

  1. Brand Story Matters

Generasi Milennia adalah generasi yang suka banget dengan love story. Ya, anngap saja generasi ini sangat suka dengan cerita yang mengemas produk dan layanan. Ketika suatu produk memiliki cerita yang cukup unik, tentunya mereka generasi Milennia akan sangat agresif untuk membincangkan dan menyebarkan ke teman-teman mereka. Contoh saja ketika kasus Bom Thamrin, tentunya ada beberapa produk yang menjadi Brand Story Matter bagi generasi Milennia. Mereka tidak sibuk dengan bom Sarinahnya, namun malah gagal fokus dengan brand-brand keren yang di pakai Polisi-Polisi ganteng saat beraksi menumpas teroris Thamrin.

Fenomena yang cukup signifikan dari Brand Story Matter adalah produk yang berkaitan dengan kuliner, semisal ada kuliner yang cukup unik dan nyleneh di Surabaya, Nasi Goreng Jancuk. Ini dengan bangga generasi Milennia, akan makan di situ dan bercerita dengan Ba Bi Bu bahwa mereka telah menikmati dengan hebatnya kuliner yang khas Jawa Timur tersebut.

  1. The Birth Of Visual Generations (Gen V)

Sebuah cerita unik dari perilaku konsumen di generasi Milennia adalah kepandaian dan kreatifitas dalam menyalurkan hobby selfinya. Jika dulu hanya standar muka dan wajah saja, kini sudah mulai aneh-aneh dan berkemabng dengan latar belakang yang ekstrim, semisal latar belakang di foto udara yang menggunakan perlengakapan super keren dan canggih drone, lensa kamera GoPro. Semua ini bertujuan untuk menghasilkan karya yang cukup elegan dan keren untuk di pamerkan di jagat maya. Setiap orang dari generasi ini, ingin mereka merasa paling updat dalam hal memberikan info terkini, biar di bilang authentic self gitu lhoo! Mereka akan merasa, akulah yang paling pantas dan keren dalam broadcast dengan audiennya masing-masing.

  1. Instant Online Buying

Hemm..perilaku yang baru dalam berbelanja online. Jika kemarin orang berbelanja online, hari ini shooping, tentunya 2 atau 3 hari kemudian barang baru sampai atau di antar. Namun perilaku ini akan lebih bergeser ke yang instant lagi. Hari ini pesan, hari ini pula wajib barangnya datang. Salah stau yang membikin revolusi ini adalah karena memang ada layanan semacam servis cepat, semisal milik Go Jek dengan Go-Food, Go-Mart, Go-Glam, Go-Clean dan Go-Massage. Semua ini akan menjadikan perilaku hidup konsumen serba cepat, sekarang pesan, sekarang pula harus di antar. Sebuah revolusi instant dalam dunia jual beli online.

Munculnya jenis-jenis layanan baru ini secara tidak langsung akan lebih memanjakan generasi Milennia dalam belanja. Semua ini terjadi karena kemudahan online. Salah satu peritel yang dengan cepat merespon kebutuhan ini adalah alfaonline.com, mereka ingin menciptakan layanan cepat antar untuk konsumen. Inilah yang dinamakan Instant Online Buying.

10.”Comment Seeker” Generations

Jika melihat lebih jauh dan lebih dalam, perilaku negatif dari generasi Milennia adalah ketika mereka posting komentar di facebook atau media sosial lainnya mereka haus akan like, haus akan komentar dan haus akan respon yang positif. Jika mereka posting dan ada respon yang negatif sangat potensial menimbulkan stress, galau, bahkan depresi jika tingkat bullyannya sudah kelewat batas. Ini bisa jadi korban teknologi media sosial, namun itulah adanya dari generasi Milennia 2016.

Jadi ini adalh perilaku apapun ketika update status minta di komentari atau sekedar di like. Jika mereka dapat like banyak tentunya akan sangat merasa narsis dan keren. Jika mendapatkan komentar positif tentunya dalam hati akan selalu berbunga-bunga layaknya sang perawan mendapatkan pujian dari pacarnya.

  1. “Social Media Pressure”

Jika mengamati lebih lanjut, media sosial merupakan media terbukan, media keterbukaan, media buka-bukaan. Apapun bisa di share di media sosial, entah itu positif ataupun negatif. Jadi siapapun bisa ngomong seenaknya, tentunya jika berucap seenaknya akan menuai badai bullyan di mana-mana, apalagi sangat bertolak belakang dengan pendapat yang diterima oleh umum, Wow! akan banyak semakin pedas cacian dan makian dari para haternya. Kamu Milennia adalah kaum yang sangat mengagangap dan peduli dengan opini para followernya, para friend, para fans. Banyak sekali fenomena negatif yang terjadi, anak-anak lebih mendengaran fans, follower di bandingkan dengan orang tua mereka. Sehingga kritik yang pedas merupakan sumber tekanan mental yang cukup keras bagi kaum Milennia ini. Meskipun itu hanya dunia maya, bisa jadi di bawa di alam sadar dunia nyata. Ini adalah perilaku social media pressure, mereka akan merasa tertekan hanya dengan melihat komentar negatif dari dunia sosmed yang mereka punya. Mereka bisa sakit hati dan tertakan hanya dengan membaca tulisan yang kurang mendukung dengan ide-ide bagus generasi ini, sebaliknya juga seperti itu, semisal ide positif yang mendapatkan banyak dukungan, tentu juga akan menjadi pemicu positif untuk terus berkarya dan berkemang. Perilaku baru dan unik dari generasi Milennia.

  1. Circular Economy

Salah satu perilaku konsumen berikutnya untuk generasi Milennia adalah mereka termasuk trend setter, maksudnya adalah mereka akan cukup berusaha untuk menjadi yang terdepan dalam urusan gadget, urusan fashion, urusan teknologi terbaru dan semua yang berkaitan dengan gaya hidup semisal trend arloji dengan GPS terbaru, trend menggunakan teknologi untuk fotografi terkini. Namun ada sebuah hal negatif yang mengikutinya yaitu mereka akan cepat bosan dengan barang-barang yang baru di beli tersebut, dampaknya mereka ingin menjual lagi barang-barang yang telah mereka pakai itu, ya semcam barang bekasnyalah. Jika di Amerika ada Ebay untuk menampung barang-barang atau porduk kayak gitu, namun di Indoensia belum ada wadah yang paling tepat. Fenomena jual beli barang bekas ini akan sangat mungkin trend di generasi Milennia 2016 ini. Inilah yang dinamakan circular economy dalam perilaku konsumen Milennia 2016.

  1. Two Faces of Cliks Activism

Jika dilihat sepintas lalu, generasi Melennia memiliki kepedulian terhadap isu-isu sosial. Misalnya saja yang terjadi kasus baru-baru ini, “Papa Minta Saham”, para pengguna medsos sangat menginginkan Setnov untuk mundur. Mereka akan dengan suka rela untuk menandatangani petisi dari change.org, bahkan meminta dukungan kemana-mana, keteman-teman, ke para followernya untuk menandatangani perubahan tersebut. Tetapi sebuah pertanyaan kritis yang wajib diajukan adalah apakah mereka betul-betul mempunyai sumbangsih dalam perubahan tersebut? Belum tentu! Hanya sebagai ilustrasi mereka di gambarkan sebagai penonton waktu pertandingan bola di GBK, peran mereka hanya sebagai penggembira, tukang sorak saat event berlangsung, namun tidak memberikan efek dan perubahan apapun, namun mereka cukup ingat dengan pepatah “click activist is cool”. Menjadi aktifitas yang cukup keren!

Tulisan ini merupakan ide yang di adopsi dari yuswohadi.com. Tulisan ini berguna untuk melatih dan melihat insting yang dilakukan oleh konsumen c3000. Jika ada yang kurang pas atau kurang jitu dalam urusan perilaku konsumen generasi Milennia itu merupakan kekurang kami dalam memahami dan mejelaskan fenomena dari yang di tulis blog aslinya. Terima Kasih, Salam Sukses Untuk Anda!