Bisnis Properti Syariah

Sponsored Links

Bisnis Properti Syariah

Ketika bercerita tentang bisnis tentunya akan bercerita pula aspek halal dan haram. Memang banyak bisnis, cara menghasilkan uang namun ada yang diperbolehkan dan ada juga yang diharamkan. Cara yang diharamkan salah satunya adalah dengan cara menipu, dengan cara yang tidak benar semisal gharar (remang-remang), yaitu ada unsur ketidakjelasan dalam jual beli atau akad itu sendiri. Begitupun dalam proses jual beli, bisnis properti syariah tidak menggunakan unsur riba yang akadnya menggunakan harga ganda, jika beli tunai sekian juta dan jika beli secara kredit dengan harga sekian. Tentu ini juga jauh dari sistem yang syariah.

Bisnis dengan cara Syariah sebetulnya bukan hanya untuk orang Islam saja. Syariah itu sistem, bukan mesti milik orang Islam, Sayariah itu cara, jadi bisa dilakukan oleh siapa saja. Syariah itu halal, jika bukan Syariah meragukan atau dilarang dalam hukum Islam. Sebetulnya ada beda tipis antara berdagang dengan riba, sangat tips sekali. Namun yang namanya berdagang itu halal sedang riba itu jelas-jelas haram dan dilarang dalam hukum Islam. Kenapa beda tipis antara berdagang dengan riba, Ya bisnis dan riba sama-sama menggunakan unsur lipatan, maksudnya ada selisih keuntungan yang dikejar. Misalnya saja seperti ini, Anda sebuah perusahaan distributor consumer good menjual produknya dengan cara mengambil keuntungan hasil jual beli, misalkan beli Rp.800.000,- dijual dengan harga Rp.1000.000,-, jadi dalam setiap transaksi ada keuntungan Rp.200.000,-. Selisih ini namanya keuntungan dan boleh dimakan alias halal dong! Ini namanya dagang! Sebaliknya yang dinamakan riba atau gak boleh seperti ini, Anda menghutangkan uang sejumlah Rp.800.000 kepada teman Anda, kemudian Anda langsung minta diawal meminta keuntungan Rp.200.000 saat pengembalian uang nanti. Ini jelas-jelas tidak boleh dalam Islam, dan inilah yang dinamakan riba yang bersifat lebihan. Selisih dari Rp.200.000 tersebut dinamakan riba, jelas memang ada transaksi, pinjam meminjam uang, namun tidak ada barang atau komoditi yang diperdagangkan. Tentunya disini jika hutang uang juga dibayar uang. Gak ada kurang dan gak ada lebih. Karena memang tidak ada transaksi jual beli. Dengan Anda meminta kepada teman Anda selisih uang Rp.200.000 itu gak boleh, jelas haram karena hukumnya riba, Anda sama saja dengan meminta bunga berbunga.

Bisnis Properti Syariah
Bisnis Properti Syariah

Solusinya bagaimana? Tentu ada solusinya…Dalam Islam tentunya meski ada solusi untuk menghindari akad hutang pihutang agar terhindar dari masalah riba. Riba tidak riba itu juga terkait dengan akad perjanjiannya. Jika Anda salah perjanjian, tentu juga akan beda hasil dan beda hukum, bisa saja berakibat halal dan juga bisa berakibat haram. Dalam contoh kasus diatas Anda sudah tahukan, sangat tips antara Riba dengan bukan riba. Beda tipis antara yang Syariah dan bukan Syariah, namun yang satu halal dan yang satunya lagi haram.

Begitupun jika Anda berniat untuk bisnis properti Syariah, tentunya akan jauh dari sistem-sistem atau cara-cara yang memberatkan antara penjual dan pembeli. Jauh dari cara-cara yang bersifat memanfaatkan kelemahan pembeli, karena memang tidak punya uang tunai untuk membelinya. Terurtama unsur Syariah, jadi jual beli sistem Syariah sangat diharapkan jauh dari praktik riba, namun yang boleh adalah sistem Syariah. Ini diperlukan kajian lebih dalam dan khusus untuk bercerita soal bisnis properti Syariah dan tidak Syariah. Namun yang jelas bisnis Syariah dalam properti itu mengandung konsekuensi hala dan haram yang sangat disyariatkan dalam agama. Tidak ada unsur tipu menipu, apalagi sistem yang merugikan pembeli karena kelemahan tidak bisa membeli dengan tunai.