Bisnis Properti, 2015

Sponsored Links

Bisnis Properti, 2015

Gimana prospek bisnis properti 2015? Ada perbaikan gak dibandingkan dengan bisnis properti 2014? Lebih baik atau lebih buruk? Yach, itu mungkin sebagian pertanyaan yang menggelayut untuk para calon pemain baru bisnis properti di tahun 2015? Atau orang-orang yang akan menginvestasikan tanah di tahun 2015? Atau para pakar ekonom yang punya kepentingan untuk analisa, gimana prospek untuk bisnis properti di tahun 2015 di bandingkan tahun2014?

Ok, dalam tulisan kali ini akan menganalisa informasi singkat, prospek bisnis properti di tahun 2015. Sebelum menganalisa lebih jauh tulisan soal bisnis properti di tahun 2015, tentunya jika ingin memprediksi trend suatu ekonomi suatu tempat atau negara, berarti harus melihat dulu setidaknya bisnis ini 5 tahun kebelakang. Jika Anda kenal dengan ilmu regresi yang biasa diajarkan di universitas-universitas, biasanya untuk meramalkan sesuatu bisnis tahun depan selau mengacu dengan informasi yang ada di tahun-tahun kemarin. Ilmu ini sudah sangat populer dan di kenal dikalangan akademisi, dan cukup fleksibel untuk penerapan dalam bidang apapun, misalnya seorang perencana bugeting, atau seorang yang akan merencanakan pembelian bahan baku untuk pabriknya, atau seorang perencana dari seorang manajer pemasaran, tentu semua menggunakan teknik regresi untuk merencanakan berapa kira-kira omset yang harus di capai tahun depan. Semua teknik yang biasa dipakai adalah teknik peramalan menggunakan teknik regresi ini. Ilmu ini juga berkembang dalam ilmu statistik, ilmu matematika ekonomi, dan segala dispilin ilmu yang berkaitan dengan perencanaan.

Bisnis properti di tahun 2015
Bisnis properti di tahun 2015

Dengan mengacu pada ilmu peramalan, gimana bisnis properti di tahun 2015, dengan sedikit berkaca kebelakang tentu ada sedikit penurunan trend di akhir kuartal 2014. Kenapa ada penurunan? Hal ini karena dipengaruhi iklim ekonomi Indonesia yang lagi-lagi pemerintah menurunkan subsidi BBM, sehingga daya beli masyarakat menengah kebawah ada sedikit goncangan, ekonomi masyarakat yang masih belum stabil mengalami sedikit goncangan. Mau tidak mau, ekonomi di akhir tahun ini akan sedikit stagnant di bandingkan 3 kuartal terakhir. Jadi untuk bisnis properti, terutama di sektor perumahan juga akan sedikit mengalami kelesuan. Sebetulnya, di tahun 2014 jika melihat secara sepintas, juga ada penurunan di kuartal 2, yaitu ketika negeri ini, mengalami yang namanya gawe politik besar-besaran di periode 5 tahunan. Ada coblosan pemilihan wakil-wakil rakyat di DPR dan MPR, ada pilpres yang sebetulnya akan memberikan dampak signifikan penurunan di sektor properti negeri ini. Seperti yang pernah di ramalkan beberapa kalangan bahwa sektor properti yang paling kena imbasnya. Namun melihat dan menengok sejarah secara data, sepertinya memang ada penurunan, namun tidak signifikan mengalami penurunan yang frontal. Kenapa? Karena masyarakat kita, sudah terbiasa 10 tahun terakhir di obrak-abrik dengan gonjang-ganjing ekonomi. Pasca krisis ekonomi yang maha dahsyat di tahun 1997 dan berterusan di tahun 1998, seakan masyarakat Indonesia sudah cukup imun dengan gonjang-ganjing ekonomi. Dengan kekebalan masyarakat Indonesia dengan jatuh bangun ekonomi di tahun sebelumnya, sehingga meskipun ada suhu politik yang cukup panas di tahun 2014, tetap tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi khususnya di bidang properti. Justru sektor ini adalah sektor yang termasuk dibilang stabil dari sisi ekonomi. Yah, kebnutuhan akan rumah dan properti tetap akan dibutuhkan sepanjang manusia ada, termasuk dengan gonjang-ganjing politik separah apapun, manusia tetap membutuhkan papan untuk tempat tinggal.

Namun sesetabil-setabilnya bisnis properti di tahun 2014, tetap terpengaruh dengan dikeluarkan kebijakan Bank Indonesia soal pembatasan pengucuran kredit di sektor properti. Yaitu ada aturan bahwa untuk pembiayaan kredit, pembeli perumahan wajib membayar uang muka minimal sebesar 30 persen dari harga rumah yang di KPRkan. Sehingga dengan pengetatan kebijakan Bank Indonesia soal kredit, secara tidak langsung menghambat penjualan sektor properti ini. Sehingga secara tak langsung kebijakan ini, sedikit menghambat pertumbuhan ekonomi kita, tertutama di sektor kredit KPR perumahan.

So, ekonomi kita sudah terbiasa di ganjal dengan aturan-aturan pemerintah soal pengetatan yang berkaitan dengan kebijakan moneter. Namun lagi-lagi pula, masyarakat ekonomi Indonesia sudah sedemikian tahan terhadap gejolak ekonomi. Sehinga mau tak mau di akhir kuartal empat di tahun 2014 ini justru ada kenaikan signifikan dalam bisnis properti. Ya, para pembeli lebih berfikir dengan rasional bahwa mereka berfikir setidaknya sudah tahu dan memprediksi dengan pasti bahwa harga properti di tahun 2015 tetap akan mengalami kenaikan, walaupun bisnis ini sebetulnya kelihatan lesu. Kenapa coba? Karena bukan rahasia umum lagi bahwa properti dari tahun ketahun tetap akan mengalami yang namanya kenaikan harga. Justru semakin tahun tidak ada properti yang turun harga, pasti malah tambah tahun akan tambah harga. So, disinilah unik dan seninya bisnis properti. Untuk itu prospek bisnis properti di tahun 2015 tetap akan moncer seperti tahun-tahun sebelumnya.

Bisnis properti di tahun 2015, setidaknya akan sedikit mengalami kenaikan lagi jika pemerintah saat ini mempunyai aturan-aturan yang bagus soal kebijakan perumahan murah dan merakyat. Jika presiden yang sudah di lantik 20 Oktober 2014 kemarin betul-betul menata ekonomi Indonesia dengan bagus, tentunya justru akan mengalami perbaikan ekonomi yang makin bermutu untuk Indonesia. Sehingga hampir dapat dipastikan bahwa bisnis properti di tahun 2015 akan semakin bagus dan berkembang.

Itulah sedikit coret-coretan sok tahu penulis soal prospek bisnis properti di tahun 2015, semoga tulisan sederhana dan sedikit ngawur ini bermanfaat bagi Anda. Salam sukses bisnis properti di tahun 2015. Tetap semangat dan terus sukses untuk properti Anda.