Bisnis Keluarga dan Asas Kekeluargaan

Sponsored Links

Bisnis Keluarga dan Asas Kekeluargaan

Di awal-awal tahun kemerdekaan negeri kita, 1945 pun bangsa kita sudah berusaha keras untuk berbahasa Indonesia dengan baik. Ketika Undang-Undang Dasar 45 dirancang, para pemimpin kita bersungguh-sungguh mencari istilah Indonesia untuk semua kata yang dipakai dalam dokumen penting ini. Konon, mereka terbentur pada istilah sosialisme ketika tiba pada bab kesejahteraan sosial. Konon pula — dan kebenaran hal ini perlu diuji oleh para sejarawan — Bung Hatta kemudian mengusulkan istilah asas kekeluargaan untuk memaksudkan sosialisme itu. Jadi! Maka, Pasal 33 Ayat 1 itu lalu berbunyi: perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

Pada tahun-tahun terakhir kehidupan Bung Hatta, Wartawan Mochtar Lubis dalam salah satu perjumpaan dengannya menyinggung soal istilab ini. “Nah, sekarang sudah kejadian. Perekonomian kita sudah diatur atas asas kekeluargaan,” kata Mochtar sambil menunjuk contoh-contoh perusahaan tertentu yang menjadi besar karena asas “kekeluargaan” itu. Seperti biasa pula, Bung Hatta hanya tersenyum. “Ya, pengertian atas suatu istilah memang sering disalahtafsirkan,” begitu komentarnya kira-kira.

Indonesia memang sudah mencatat banyak perusahaan keluarga yang besar. Dulu ada Oey Tiong Ham, ada Nitisemito, ada Tasripin, ada Piola. Semuanya kini sudah tinggal puing-puing belaka. Menurut beberapa peneliti, asas “kekeluargaan”-lah yang justru meruntuhkan mereka.

Bisnis Keluarga
Bisnis Keluarga

Kini asas “kekeluargaan” itu lain lagi bentuknya. Ada Sudono Salim sang ayah, ada Anthony Salim sang anak. Ada William Soeryadjaya, ada Edward Soeryadjaya. Ada Mochtar Riady, ada James Riady. Silakan perpanjang sendiri daftar ini. Soalnya, saya khawatir, begitu sampai pada nama ke-200, majalah ini bisa berhenti mengunjungi Anda.

Mungkin juga karena belajar dari pengalaman dan kegagalan masa lalu, para penerus dinasti perusahaan “keluarga” masa kini hampir selalu sengaja dipersiapkan secara khusus untuk memegang tampuk pimpinan. Jaya Suprana dikirim ke Jerman (belajar piano sambil jadi tukang ubin) sebelum diangkat menjadi direktur pemasaran Jamu Cap Jago. Barulah setelah ia sukses di situ, ia diangkat sebagai presiden direktur.

Charles Ong punya banyak gelar kesarjanaan sebelum memimpin Jamu Cap Potret Nyonya Meneer. James Riady keluar masuk sekolah dan bank-bank besar di Amerika Serikat sebelum memimpin Bank Perniagaan Indonesia. Tetapi rata-rata mereka telab berhasil mencapai singgasana dalam usia muda. Kebanyakan usia mereka masih berkepala 3. James Riady bahkan sudah jadi direktur sebelum berusia 30 tahun.

Kecenderungan ini berlainan dengan suksesi jabatan perusahaan “keluarga” di Jepang. Majalah Time baru-baru ini mengumumkan naiknya Shoichi Kajima, 53, sebagai presiden direktur perusahaan konstruksi Kajima Corp., yang karena besarnya sering disebut sebagai Bechtel-nya Jepang. Tidak saja ia harus menunggu lebih lama, tetapi ia pun harus lebih dulu mencetak track record yang meyakinkan. Ia sendiri sudah ikut dalam perusahaan yang dirintis kakek buyutnya sejak ia masih mahasiswa di Universitas Tokyo.

Arsitek lulusan Harvard ini pada usia 34 tahun sudah mengejutkan Jepang ketika pada tahun 1965 ia menyelia (supervisi) pembangunan gedung pencakar langit pertama di Jepang. Gedung Kasumigaseki, yang bertingkat 36, itu merupakan bangunan pertama yang mendobrak gagasan tradisional bahwa Jepang — yang sering diguncang gempa bumi — tidak cocok untuk bangunan tinggi. Selain itu, ia pun mempunyai reputasi sebagai arsitek unggulan Jepang.

Bagi orang Jepang, usia 53 tahun duduk di kursi tertinggi perusahaan sebesar itu memang masih dianggap muda. Ayah Shoichi Kajima sendiri baru bisa duduk sebagai presiden direktur Kajima Corp. setelah pensiun sebagai diplomat yang punya nama besar. Shoichi pun tidak langsung menggantikan ayahnya, karena kakak iparnya dianggap lebih dulu matang untuk jabatan itu, inilah fenomena bisnis keluarga.

Yang jelas, kursi tertinggi di Kajima Corp. itu tidak otomatis diduduki oleh keturunan langsung. Maklum, tukang kayu Iwakichi Kajima tidak mendirikan perusahaan ini dengan gampang pada tahun 1840. Perusahaan ini terkenal karena keberaniannya melubangi perut Gunung Hakone untuk membuat terowongan sepanjang 7,2 kilometer. Jalan kereta api ini baru tembus setelah 16 tahun.

Kajima Corp. pun merupakan perusahaan yang pertama membangun instalasi reaktor nuklir yang pertama di Jepang. Karena itu, hanya kandidat yang bisa meneruskan tradisi kepeloporan sajalah yang akan diwisuda ke kursi tertinggi Kajima Corp. Kalau perlu, tidak usah dari lingkungan keluarga.

Asas kekeluargaan, di mana pun juga, dalam konteks yang mana pun, memang perlu ditafsirkan secara lebih berhati-hati.