Bisnis Itu Ujung-Ujungnya Ya Mencari Keuntungan

Sponsored Links

MARI MENGEJAR LABA

no matter how much business series.
it will never be enough for its critics.
(Theodore Levitt)

Bisnis itu ya cari untung. Bisnis itu bukan organisasi sosial. Tetapi, mengapa istilah tanggung jawab sosial sudah lama merasuk ke dalam dunia bisnis? “Kami adalah perusahaan yang punya komitmen sosial tinggi,” kata seorang pengusaha dengan gagah, “karena itu, sekalipun keadaannya buruk, kami tidak melakukan PHK.” Padahal, sebenarnya, ia cukup gemetaran ketika mengucapkan kalimat itu. Ia sendiri sebenarnya tak cukup yakin bahwa situasinya akan segera membaik sehingga ia bisa tetap mempertahankan semua karyawannya.

What goes up must come down, kata pemeo. Tetapi, itu sesuai dengan hukum gravitasi. Dan tak ada hukum yang menjamin bahwa yang sebaliknya akan terjadi. What goes down might not come up. Ini bukan pandangan pesimistis tentang keadaan kelabu, melainkan justru ajakan untuk menatap jauh ke depan. Sekarang, ketika bisnis lesu dan bottom line menjadi negatif, barulah kita sadar betapa bermanfaatnya laba untuk mempertahankan napas usaha.

Benar, bisnis harus mencari untung. Dan kita boleh tak peduli kepada kritik yang mengatakan bahwa mencari untung adalah moralitas yang perlu diragukan. Kita boleh berdiri tegak dan menantang semua orang yang bersikap antibisnis sambil menjelaskan apa arti laba bagi kesejahteraan bangsa. Apa jadinya bangsa kita ini bila semua bisnis yang tumbuh lalu rugi dan mati? Belum mati saja kita sudah lama tercekam kekhawatiran. PHK pun merajalela.

Bisnis Itu Ujung-Ujungnya Keuntungan (Illustrasi)
Bisnis Itu Ujung-Ujungnya Keuntungan (Illustrasi)

Berdosakah melakukan usaha dan mendapat laba? Kalau benar berdosa, mulai sekarang dapat kita hentikan semua imbauan untuk berwirausaha. Ada satu perusahaan yang begitu takutnya menyebut laba, sehingga dalam laporan kegiatannya laba disebut ketahanan finansial. Banyak perusahaan besar yang bahkan sudah mirip pemerintahan mini dengan obsesi menyejahterakan karyawan.

Tanggung jawab sosial seharusnya tak dilihat sebagai slogan belaka. Dunia usaha sepatutnya memperhatikan masyarakat secara lebih serius, Dunia usaha perlu ikut serta dalam kegiatan masyarakat — tidak hanva mengambil, tetapi juga memberi. Lalu, apa garansinya bagi mereka yang memberi? Teh Botol, misalnya, tak kurang sumbangannya untuk kegiatan sosial. Ketika ia dilanda isu bohong tentang penggunaan formalin dalam produknya, tak satu pun organisasi penerima sumbangan merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu.

Tanggung jawab sosial dimanifestasikan dalam berbagai bentuk. Perusahaan-perusahaan kini makin peka dan responsif terhadap kebutuhan karyawannya. Banyak perusahaan yang mensponsori pembangunan sekolah, rumah sakit, tempat peribadatan. Ada pula yang menjadi penyumbang tetap organisasi sosial. Mobil Oil bahkan tak segan mengeluarkan Rp 200 juta untuk membayar Umar Kayam dan Harry Peccinotti jalan-jalan keliling Indonesia dalam rangka menerbitkan buku budaya. Sebelumnya, Total Indonesia, juga sebuah perusahaan minyak, menerbitkan buku tentang budaya Batak dengan anggaran Rp, 50 juta.

Pengabdian dunia usaha yang mendemonstrasikan selflessness kaum pengusaha itu ternyata belum melunakkan sikap antibisnis dalam masyarakat. Semua orang pergi mencari sumbangan ke BCA. Tapi, toh BCA, dapat kiriman dua bom. IBM menyumbang Rp 5,5 milyar dalam bentuk komputer dan perangkatnya untuk IKIP, Unibraw, dan ITB. Tetapi, ITB harus mencari persetujuan ke mana-mana hanya untuk membeli sebuah mesin ketik IBM. Ketika saya rnenulis tentang hal baik yang dilakukan PT Multi Bintang, kontan saya mendapat telepon gelap agar tidak lagi menulis puji-pujian untuk pabrik bir ini. Ini, setidaknya, membuktikan bahwa masih ada kecurigaan terhadap bisnis.

Tanggung jawab sosial memang hal yang tak dapat diabaikan. Tetapi tanggung jawab sosial bukanlah berhala baru yang dapat menyelamatkan bisnis dari kecurigaan masyarakat. Pengabdian masyarakat macam apa pun, dan seberapa banyak pun yang dilakukan dunia usaha, tak akan pernah dianggap cukup oleh masyarakat. Masalah utama dalam manajemen memanglah mencari untung dengan cara-cara yang konsisten dengan survival jangka panjang dan sistem ekonomi yang dianut.

Benar yang dikatakan Frank O. Prior, tycoon minyak dari Indiana: hubungan masyarakat yang baik hanya masuk akal bila dibangun di atas landasan ekonomi yang kuat, bukan atas rasa pirasa. Rasa pirasa punya kecenderungan menguap bila kena panas. Sedangkan landasan ekonomi yang kuat lebih tahan lama.