Beda Pemimpin Bisnis dan Penemu Bisnis

Sponsored Links

Beda Pemimpin Bisnis dan Penemu Bisnis

Ketika semua orang yakin bahwa dunia sebuah bidang datar, Columbus bersikeras untuk membuktikannya bulat. Columbus punya teori bahwa kalau dia berlayar terus ke barat, akan sampai di Hindia, dan muncul kembali di timur. Ia secara sukarela menyediakan diri untuk membuktikan teori itu, dan kemudian sendiri pula membentuk network untuk menopang pembuktiannya. Karena waktu itu belum ada bank atau sponsor swasta, maka ratu Spanyol Isabella mengambil risiko membiayai pelayaran akbar Columbus itu.

Columbus berhasil membuktikan teorinya. Dan Ratu Isabella mendapatkan uangnya kembali dari bisnis yang bisa dikembangkan dari pelayaran itu. Columbus, tentu saja, mendapat kehormatan untuk memimpin bisnis tersebut. Tetapi dia bukanlah manajer yang baik. Dia hanya seorang penemu. Lalu Columbus pun dipensiunkan. Seorang manajer kemudian diangkat menggantikannya.

Bisnis Colombus
Bisnis Colombus

Seorang penemu memang harus dibedakan dari seorang pemimpin Nyonya Meneer, misalnya, menemukan resep jamu yang membuat wanita tetap diminati suaminya. Tetapi anak-anaknya yang kemudian mengenbangkan jamu tradisional itu menjadi industri. Setelah itu, para cucunva mengembangkannya lagi ke tahap modernisasi industri. Kalau saja Nyonya Meneer, waktu itu, bersikeras memimpin usahanya, mungkin usaha itu akan tetap menjadi usaha rumahan yang hanya dikenal para tetangganya.

Sekarang kita melihat fenomena baru. Para penemu terutama dibidang-bidang eksakta, menjadi pemimpin usahanya sendiri. Sejak pemuda memakai bluejeans menemukan komputer Apple dan memasarkannya dengan sukses, makin banyak generasi bluejeans yang bergerak di bidang komputer. Dan semuanya lalu menjadi presiden direktur perusaha masing-masing.

Baru-baru ini ada wawancara satelit yang diselenggarakan oleh USIS untuk para wartawan dan dokter di Sydney, Jakarta, Singapura, Manila, Bangkok, dan Hong Kong. Yang diwawancarai adalab dua tokoh bedah jantung Amerika: Dr. William de Vries di Louisville, Kentucky, dan Dr. Robbert Jarvik di Salt Lake City, Utah. Cukup mengejutkan, karena keduaya ternyata orang muda. De Vries, penggemar bola basket, baru berusia 40 tahun, dan merupakan satu-satunya dokter yang telah memasang jantung buatan pada tiga penderita penyakit jantung. Sedangkan Jarvik, ganteng dan baru berusia 38 tahun, adalah penemu Jarvik-7, jantung buatan yang belakangan ini sering kita baca dan dengar melalui media massa. Dengan penemuan itu, Jarvik bergabung dengan perusahaan alat-alat kardiologi Symbion dan menjadi presiden direkturnya. Hanya Syimbion yang diberi izin untuk mencoba jantung buatan, yang berharga sekitar Rp 100 juta, pada tujuh orang pasien — tiga di antaranya telah terlaksana.

Masih terlalu pagi untuk mengatakan, sebagai penemu, Jarvik juga akan berhasil memimpin usaha yang memasarkan hasil penemuannya. Tetapi, bayangkan prospek usaha ini kalau berhasil, mengingat adanya 38 juta penderita penyakit jantung di AS. Dari jumlah itu, setengah juta orang tiap tahun menderita serangan jantung.

Di Swedia, saya pernah bersua dengan seorang penemu yang baru berumur 36 tahun. Ia ahli mikrobiologi, juga seorang dokter, keturunan Mesir bernama Refaat el Sayed. Refaat menemukan sebuah alat untuk memurnikan air minum, yang telah dipatenkan dan dipasarkan ke seluruh dunia oleh Electrolux. Hingga kini ia terus bekerja di laboratoriumnya, dan telah menghasilkan 26 temuan yang dipatenkan.

Belum lama berselang, Refaat mendirikan sebuah usaha (dukungan dana dari Electrolux) yang menghasilkan bahan-bahan farmasi, dan menjadi presiden direktur dari usaha itu. Ia setiap tahun menggunakan 200 hari untuk memasarkan produknya keliing dunia. Salah satu ujung tombaknya adalah bahan antibiotik yang dibiakkan dengan medium beras. Orang Barat mungkin tak akan pernah memperhitungkan beras sebagai medium. Tetapi sebagai orang yang masih berkultur beras, Refaat mencobanya. Dan berhasil! Ia pun terbukti berhasil memasarkan temuannya dalam skala besar.

Ini mengingatkan kita kepada kisah seorang sufi yang duduk mencangkung di pinggir danau sambil mengaduk-adukkan biang yogurt. Lalu seorang yang lewat berujar, “Hai, mana bisa kamu bikin yogurt dari air danau. Biang yogurt itu harus kau masukkan dalam susu.” Sang sufi hanya menjawab: “Saya ‘kan hanya mencoba. Siapa tahu benar-benar jadi yogurt.”