Bagaimana Makan Pisang?

Sponsored Links

BAGAIMANA MAKAN PISANG?

Berkali-kali ke Jepang, dan berusaha memahami sebanyak-banyaknya budaya dan adat istiadat Jepang, ternyata masih saja pengetahuan saya belum cukup. Baru-baru ini saya “terperosok”. Gara gara sedang mengurangi masukan alkohol, maka saya hanya memesan air es bersama makan siang saya. Teman saya memesan sake. Memang tidak ada yang lebih enak dari sake untuk menemani sashimi, irisan ikan mentah segar.

Saya mengangkat gelas air saya untuk toast. Teman saya hampir saja mengangkat cawan cake-nya, dan tiba-tiba ia seperti melihat hantu. ia memandangi saya sambil menggeleng-geleng. “Jangan mengangkat toast dengan gelas air,” katanya lirih, “itu pantangan.”

Mizu mazusake, begitu kalau tidak salah orang menyebut cawan sake yang diisi air. Orang Jepang ternyata punya kepercayaan bahwa bila hal itu dilakukan, maka salah seorang akan meninggal dunia. Pada masa perang dulu, anggota keluarga yang akan berangkat ke medan perang diantar dengan mizu mazusake. Mereka siap untuk tidak melihat anggota keluarganya itu kembali.

Makan Pisang
Makan Pisang

Bulu kuduk saya meremang. Memang malam itu Tokyo diguncang gempa 6,2 pada skala Richter, gempa terbesar dalam 54 tahun terakhir Kami semua terbayang kejadian yang baru saja menimpa Meksiko. Untung, roast air saya digagalkan oleh teman itu…

Tata krama bisnis memang bukan sekadar basa-basi. Tata krama mempunyai arti penting dalam pergaulan. Dan karena pada dasarnya kaum bisnis dituntut untuk mempunyai pergaulan yang luas dan bermutu, maka wajar pula bila kaum bisnis dituntut untuk memahami tata krama sepenuhnya.

Dan tata krama memang selalu menyangkut hal-hal yang sepele. Jangan beserdawa sehabis dijamu makan, kecuali di negara-negara Timur Tengah. Jangan menusukkan hashi (sumpit makan) pada mangkuk nasi, kecuali dalam persembahan di kuil. Jangan menampakkan telapak sepatu ketika duduk berhadapan atau berdampingan dengan rekan bisnis. Kalau diundang makan malam di restoran yang chic, jangan keluarkan rokok sebelum kopi dihidangkan.

Semua itu tentu sulit dapat kita pahami kalau kita tidak pernah mempelajarinya. Kesempatan untuk belajar, padahal, tidak pernah kurang. Begitu banyak buku yang diterbitkan untuk menolong kita memahami tata krama, baik yang bersifat internasional maupun yang bersifat kedaerahan. Doing Business in Japan, Table Manners dan buku-buku semacam itu sudah tersedia di toko buku. Dan, percayalah, masih banyak misteri yang belum kita ketahui tentang tata krama. Coba yang sepele ini saja: bagaimana Anda makan pisang? Dikupas kulitnya lalu langsung dimasukkan ke mulut? Dikupas habis kulitnya, ambil isi buahnya, dan Iangsung dimasukkan ke mulut sedikit demi sedikit? Dikupas kulitnya, pegang dengan tangan kiri, lalu tangan kanan mematahkan isi buah pisang sedikit demi sedikit untuk dimasukkan ke mulut? Yang terakhirlah yang benar, menurut tata krama internasional.

Atau, coba lagi ini: bagaimana Anda berjalan di antara dua deretan kursi yang sudah dipenuhi orang? Berjalan memunggungi atau menghadap? Seharusnya Anda berjalan memunggungi sambil setiap kali menyatakan maaf dan berhati-hati untuk tidak menginjak sepatu orang.

Baru-baru ini saya menghadiri sebuah jamuan makan siang di Jakarta. Dua orang yang datang terlambat (terlambat adalah melanggar tata krama!) duduk di belakang meja saya. Ceramah sudah dimulai, dan dua orang ini makan dengan “riuh rendah”. Bunyi mulutnya berkeciplak ke mana-mana. Komentarnya tentang makanan membuat kegaduhan yang memuat orang-orang di sekitar tidak dapat berkonsentrasi mendengar ceramah yang disampaikan dari mimbar.

Itu memang keterlaluan. Tetapi, kejadian seperti itu termasuk yang sangat sering terjadi. Makan dengan mulut terbuka dan suara berkeciplak memang sulit diterima di kalangan orang beradab. Kebiasaan mengobrol sendiri ketika di mimbar ada orang lain berbicara pun merupakan kebiasaan buruk yang acap kita jumpai. Sayangnya lagi, ini justru banyak terjadi di kalangan rekan-rekan saya, para eksekutif muda. Mereka selalu saja mempunyai bahan pembicaraan yang lebih menarik untuk dibicarakan ketika sebetulnya ia harus memperhatikan apa yang tersaji di depan.

Di Amerika Serikat, di kalangan mereka yang kasmaran, memang ada pernyataan populer: let’s go to a movie and not watch the movie. Di dalam ruang yang digelapkan dan dingin nyaman, mereka tidak menonton film, tetapi asyik berpacaran. ini memang tak seberapa mengganggu penonton yang lain. Tetapi, bila dua orang mengobrol ketika di depan ada penceramah yang menarik, atau dua orang mengobrol ketika di panggung disajikan pementasan musik kamar, akan sungguh keterlaluan.

Orang akan dihargai bila ia pun menghargai yang lain. Dan penghargaan kepada orang lain itu dimanifestasikan dalam bentuk tata krama Banyak orang mengatakan bahwa tata krama itu dimulai dari rumah — van huis ult. Ini banyak benarnya. Tetapi, jangan dipakai sebagai excuse.. Karena tata krama bisnis bisa dipelajari.