Anda Bekerja Dengan Manusia, Bukan Robot

Sponsored Links

Anda Bekerja Dengan Manusia, Bukan Robot

Mengambil secuil peristiwa perampokan uang USS 20 juta di Wells Fargo Bank di Amerika, diumumkan kepada masyarakat oleh seorang sersan polisi. Itu bukan hal yang aneh di Amerika. Perwira tinggi di sana memang tidak bicara soal perampokan atau gedung yang terbakar. Itu urusan para sersan. Tokoh-tokoh polisi dalam film televisi bikinan Amerika pun hanya menonjolkan peran para sersan. Getraer “cuma” sersan. Hooker juga sersan. Kojak hanya setingkat Iebih tinggi, inspektur.

Di Indonesia organisasi kepolisian sedang mengalami perombakan. Anggota polisi nantinya, kecuali di pasukan Sabhara atau Brimob, tidak akan ada lagi yang berpangkat prajurit atau kopral. Adanya sersan ke atas. Soalnya, polisi bertugas melindungi individu-individu dalam masyarakat. Dan untuk melakukan tugas itu ia harus memutuskan sendiri, tak bisa sering-sering bertanya atau minta instruksi atasan. “Misalnya, masuk ke satu bank dan berbicara dengan direktur bank mengenai pemalsuan cek,” kata Jenderal Benny Moerdani. “Itu tak bisa kita harapkan dari orang yang memperoleh pendidikan sekolah dasar, apalagi hanya dengan setrip satu.”

Rencana ini dalam pelaksanaannya nanti tentu akan mengubah piramid personalia Polri. Tidak lagi langsing di tengah dan membusung di bawah, tetapi akan mekar di tengah. Ada yang sinis berkata, “Wah, denda damai dengan sersan ‘kan lebih mahal daripada dengan setrip satu?” belum tentu. Dengan sersan-sersan memegang peranan di kepolisian, penegakan hukum tentunya akan lebih tertib.

Dalam bisnis, kita pun sering menemukan sebuah organisasi yang makin menggelembung di bawah. Apalagi dengan “asas kekeluargaan”, yang hidup secara keliru di sini. Seseorang yang mengaku semarga datang minta pekerjaan ‘apa saja”. Lalu ia menjadi tea boy. Seseorang yang mengaku teman sekolah datang dan, karena membawa ijazah tata buku, lalu ia menjadi pembantu pemegang buku. Begitulah terakumulasi tenaga-tenaga marginal yang sebenarnya tidak diperlukan oleh organisasi. Dan mereka hanya menjadi push button personnel — baru bergerak kalau bos batuk dan menyuruhnya berbuat sesuatu.

Besarnya pegawai di tingkat bawah ini juga mempersulit rentang kendali para penyelia dan manajer yang harus mengurus lebih banyak kepala.. Atau, malah akan menciptakan kebutuhan “palsu” untuk menambah penyelia dan manajer baru.

Situasi kebalikannya pun sering terjadi, yaitu organisasi yang bengkak di atas, alias top heavy. “Too many chiefs, but no indians,” gurau teman saya kalau melihat organisasi seperti ini.

Manajemen Sumber Daya Manusia (illustrasi)
Manajemen Sumber Daya Manusia (illustrasi)

Mengapa itu terjadi? Itu adalah hasil manajemen ketengan, yang hany responsif terhadap kebutuhan pada suatu saat. Misalnya terjadi suatu merger antara dua perusahaan. Secara mendadak bertambahlah jumlah eksekutif yang beberapa fungsinya sebetulnya dapat digabungkan. Perusahaan yang tengah berkembang pun menghadapi kemungkinan yang sama. Tiap ada tambahan jenis bisnis baru, diangkat pulalah seorang manajer baru. Sampai pada suatu ketika tiba-tiba tersadar bahwa sudah terlalu banyak bos. Tak ada “sersan’ yang dapat melaksanakan tugas yan dijabarkan oleh para “letnan”. Sedangkan para “kopral” tak mampu melakukannya. Karena itu, sering kita melihat manajer yang tidak sempat melakukan management work karena telanjur terjebak mengerjakan rechtical work.

Kita memang terlalu sering melupakan golongan menengah. Ekonomi kita juga ditandai solidnya golongan kuat dan berjubelnya golongan lemah. Sedangkan ciri negara maju justru adalah kuatnya golongan menengah, golongan para “sersan”.

Kata kunci yang dapat ditawarkan dalam mengurus bisnis di sini adalah: landasan system. Harus ada keberanian untuk mengonsolidasikan diri sejenak dan me1etakkan dasar-dasar yang fundamental. Landasan operasional itu harus dibuat sedemikian rupa sehingga tidak saja dapat memenuhi kebutuhan masa kini, tetapi dapat juga secara fleksibel dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masa depan. Tanpa membuat landasan itu, apa pun yang berada di atasnya hanyalah merupakan bangunan tak berstruktur, yang mudah roboh tertiup angin yang sedikit kencang.

Kita sering mendengar slogan ini: karyawan adalah modal kita yan paling utama. Tetapi itu sering kali hanya tinggal slogan belaka. Kita lebih sering abai terhadap kualitas personil yang akhirnya tak bisa dikembalikan untuk mengisi pertumbuhan usaha. Sebab, pada dasarnya, pertumbuhan usaha adalah pertumbuhan orang-orang yang mendukung usaha itu. Lupakanlah robot! Kita bekerja dengan manusia.